larger smaller reset

Bukti Nyata Syi'ah Bukan Islam

hakekat-syiah

kilowyk

Bukti Syi'ah Bukan Islam, tipu daya Syi'ah , bahaya Syi'ah , Syi’ah aliran sesat, hakikat Syi’ah, kufurnya Syi’ah, Syi’ah agama kafir, Perbedaan Islam dan Syi'ah.

Kebanyakan kaum muslimin mengira Syi'ah hanyalah khilafiyah atau salah satu madzhab seperti madzhab-madzhab yang umumnya dianut oleh kebanyakan kaum muslimin di Indonesia seperti Syafi'i, Hambali, Maliki dan Hanafi. Padahal MUI juga telah mengeluarkan fatwa bahwa Syi’ah adalah agama kafirdownload fatwa MUI tentang Syi'ah ). Simaklah perbedaan berikut antara Islam dengan Syi'ah.

1. Pembawa Agama Islam adalah Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

1. Pembawa Agama Syi’ah adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ Al Himyari.

[Majmu' Fatawa, 4/435]

2. Rukun Islam menurut agama Islam:

  1. Dua Syahadat
  2. Shalat
  3. Puasa
  4. Zakat
  5. Haji

[HR Muslim no. 1 dari Ibnu Umar]

2. Rukun Islam ala agama Syi’ah:

  1. Shalat
  2. Puasa
  3. Zakat
  4. Haji
  5. Wilayah/Kekuasaan

[Lihat Al Kafi Fil Ushul 2/18]

3. Rukun Iman menurut agama Islam ada 6 perkara, yaitu:

  1. Iman Kepada Allah
  2. Iman Kepada Malaikat
  3. Iman Kepada Kitab-Kitab
  4. Iman Kepada Para Rasul
  5. Iman Kepada hari qiamat
  6. Iman Kepada Qadha Qadar.

3. Rukun Iman ala Agama Syi’ah ada 5 Perkara, yaitu:

  1. Tauhid
  2. Kenabian
  3. Imamah
  4. Keadilan
  5. Qiamat

4. Kitab suci umat Islam Al Qur’an yang berjumlah 6666 ayat (menurut pendapat yang masyhur).

4. Kitab suci kaum Syi’ah Mushaf Fathimah yang berjumlah 17.000 ayat (lebih banyak tiga kali lipat dari Al Qur’an milik kaum Muslimin).

[Lihat kitab mereka Ushulul Kafi karya Al Kulaini 2/634]

5. Adzan menurut Agama Islam:

  • (Allōhu akbar) 4 kali
  • (Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali
  • (Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali
  • (Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali
  • (Hayya ‘alal falāh) 2 kali
  • (Allōhu akbar) 2 kali
  • (Lā ilāha illallōh) 1 kali
  • Lihat Video Adzan Agama Islam

5. Adzan Ala Agama Syi’ah:

  • (Allōhu akbar) 4 kali
  • (Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali
  • (Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali
  • (Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali
  • (Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali
  • (Hayya ‘alal falāh) 2 kali
  • (Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali
  • (Allōhu akbar) 2 kali
  • (Lā ilāha illallōh) 2 kali
  • Lihat Video Adzan Agama Syiah

6. Islam meyakini bahwa shalat diwajibkan pada 5 waktu.

6. Agama Syi’ah meyakini bahwa shalat diwajibkan hanya pada 3 waktu saja.

7. Islam meyakini bahwa shalat Jum’at hukumnya wajib. [QS Al Jumu'ah:9]

7. Agama Syi’ah meyakini bahwa shalat jum’at hukumnya tidak wajib.

syiah-bukan-islam8. Islam menghormati seluruh sahabat Rasulullah dan meyakini mereka orang-orang terbaik yang digelari Radhiallohu ‘Anhum oleh Allah. [QS At Taubah 9:100]

8. Agama Syi’ah meyakini bahwa seluruh sahabat Rasulullah telah kafir (Murtad) kecuali Ahlul Bait (versi mereka), salman Al Farisi, Al Miqdad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifari.

[Ar Raudhoh Minal Kafi Karya Al Kulaini 8/245-246]

9. Islam meyakini bahwa Abu Bakar adalah orang terbaik dari umat ini setelah Rasulullah, kemudian setelahnya Umar bin Al Khatthab, lalu Utsman bin ‘Affan, lalu ‘Ali bin Abi Thalib.

9. Agama Syi’ah meyakini bahwa orang terbaik setelah Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib, adapun Abu Bakar dan Umar bin Al Khatthab adalah dua berhala Quraisy yang terlaknat.

[Ajma'ul Fadha'ih karya Al Mulla Kazhim hal. 157].

10. Islam meyakini bahwa Abu bakar adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah.

10. Agama Syi’ah meyakini bahwa orang yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib.

11. Islam meyakini bahwa Abu Bakar adalah khalifah pertama yang sah.

11. Agama Syi’ah memposisikan Abu Bakar sebagai perampas kekhalifahan dari ‘Ali bin Abi Thalib

12. Islam meyakini bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Amr bin Al ‘Ash, Abu Sufyan termasuk sahabat Rasulullah

12. Agama Syi’ah meyakini bahwa mereka pengkhianat dan telah kafir (Murtad) dari Islam.

13. Tata shalat agama Islam Lihat Videonya

13. Tata shalat agama Syiah Lihat Videonya

Perhatian: Semua yang kami sampaikan ini bersumberkan dari kitab-kitab yang mereka jadikan rujukan dan sebagiannya dari situs resmi mereka.

Lihat video Lainnya tentang Kesesatan syiah videosyiah.com

Semoga tulisan tentang Bukti Syi'ah Bukan Islam yang singkat ini bisa menyadarkan kaum muslimin akan bahaya Syi’ah dan Syi’ah adalah agama kafir (Sumber)

kilowyk

Ketika Umat Islam Dibantai Syi’ah

 

say-no-to-syiahKetika Ummat Islam di Suriah dibantai rezim Syi’ah, dan ketika Ummat Islam di Iran dibantai dan mengalami perlakuan diskriminatif oleh para penguasa Syi’ah, saat itu pula di Indonesia misionaris Syi’ah leluasa menjajakan paham sesatnya di radio, surat kabar, televisi, hingga ke perguruan tinggi Islam seperti UIN dan IAIN.

Kalangan Syi’ah itu tidak perlu menunggu jadi mayoritas lebih dulu untuk menjadi penguasa di suatu kawasan, karena dalam posisi sebagai minoritas pun mereka bisa merebut kekuasaan dari tangan kaum Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Salah satu sebabnya, mereka ditopang kekuatan negara-negara kafir yang memusuhi Islam.

 Itulah sebabnya, meski di Indonesia penduduk berpaham Syi’ah merupakan minoritas, namun mereka terlihat berani, tidak lagi malu-malu dan tidak lagi berta’qiyah. Kasus Sampang yang terjadi pada 29 Desember 2011 lalu, menunjukkan hal itu. Secara akal, bila tidak ada kasus Sampang, boleh jadi kewaspadaan Ummat Islam terhadap gerakan Syi’ah yang sudah sedemikian berani dan nekat, tidak bangkit ke permukaan.

ADA FENOMENA yang paradoks, ketika Ummat Islam di Suriah dibantai rezim Bashar Assad (kelahiran Damaskus, 11 September 1965) yang berpaham Syi’ah Nushairiyah; dibantai di Iran yang merupakan pusatnya paham sesat Syi’ah, bahkan di Teheran ibukota Iran tidak ada satu pun masjid Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah); di Indonesia yang konon berpaham Ahlussunnah wal jama’ah ini, para misionaris Syi’ah justru leluasa mempropagandakan bahwa Syi’ah itu bagian dari Islam, atau merupakan salah satu madzhab dalam Islam.

 Para misionaris Syi’ah itu seolah tidak terusik oleh fakta kekejaman kalangan Syi’ah di Suriah dan di Iran yang membunuhi Ummat Islam. Para misionaris itu tetap saja menjajakan kebohongan bahwa Syi’ah dan ahlussunnah wal jama’ah itu sama-sama Islam yang layak hidup berdampingan, jangan membesar-besarkan perbedaan, Syi’ah itu Islam juga, tuhannya Allah, nabinya Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan sebagainya. Padahal iblis juga mengakui Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Namun iblis mengingkari perintah Allah dan wahyu-Nya yang disampaikan kepada Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Artinya, dari segi tauhid, iblis justru terlihat lebih baik dari kalangan Ahmadiyah yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam; juga lebih baik dari sekte Syi’ah bathiniyah yang mempertuhankan Ali bin Abi Thalib ra. Salah satu materi bid’ah yang diprakarsai Syi’ah bathiniyah adalah peringatan maulid Nabi. Di Indonesia, peringatan maulid Nabi menjadi program “wajib” di kalangan yang menyebut dirinya ahlussunnah wal jama’ah. Bahkan, mereka tidak hanya ‘mewajibkan’ peringatan maulid, tetapi mencibir Ummat Islam yang menolak peringatan maulid dengan sebutan wahabi.

Fakta kekejaman penguasa Syi’ah di Suriah dapat diperoleh dari Wahid Shaqr. Menurut juru bicara Gerakan Perubahan Nasional Suriah ini, selama satu tahun revolusi Suriah berlangsung, lebih dari 15 ribu warga sipil muslim Suriah gugur oleh serangan militer rezim Bashar Assad. Sebelumnya, menurut ustadz Ghiyath Abdul Baqi Asyuraiqi asal Suriah ketika berkunjung ke Indonesia Februari lalu, sejak revolusi yang terjadi pada 15 Maret 2011, rezim Syi’ah Nushairiyah Bashar Assad menghancurkan wilayah pemukiman penduduk Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) dengan tank, roket, dan serangan bom.

Bahkan serangan militer yang brutal itu juga ditujukan kepada sejumlah masjid yang di dalamnya masih berlangsung pelaksanaan ibadah shalat. Akibat serangan itu, selama satu tahun revolusi, terdapat belasan ribu Ummat Islam tewas di tangan rezim Syi’ah ini, sedangkan sekitar 5.000 jiwa lebih lainnya menderita luka-luka serius hingga ringan.

Masih menurut ustadz Ghiyath Abdul Baqi Asyuraiqi, Ummat Islam yang lolos dari lubang maut serangan brutal tersebut, dimasukkan ke dalam penjara. Jumlahnya mencapai 100.000 lebih. Sebagian lainnya mengungsi ke Lebanon, Turki, Jordan, Arab Saudi dan negara-negara lainnya, yang jumlahnya mencapai lebih dari 500 ribu jiwa.

Di Suriah, komunitas Syi’ah adalah minoritas. Ketika mereka menguasai kekuatan politik dan militer, maka warga Islam Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang jumlahnya mencapai 80 persen dari total penduduk Suriah yang mencapai 20 juta jiwa ini pun menjadi sasaran pembantaian. Menurut catatan, sekitar 10 persen penduduk Suriah adalah penganut Syi’ah Nushairiyah (yang sedang berkuasa), lima persen Syi’ah bathiniyah, dan lima persen lainnya penganut Nashrani.

Jadi, kalangan Syi’ah itu tidak perlu menunggu jadi mayoritas lebih dulu untuk menjadi penguasa di suatu kawasan, karena dalam posisi sebagai minoritas pun mereka bisa merebut kekuasaan dari tangan kaum Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Salah satu sebabnya, mereka ditopang kekuatan negara-negara kafir yang memusuhi Islam.

Itulah sebabnya, meski di Indonesia penduduk berpaham Syi’ah merupakan minoritas, namun mereka terlihat berani, tidak lagi malu-malu dan tidak lagi berta’qiyah. Kasus Sampang yang terjadi pada 29 Desember 2011 lalu, menunjukkan hal itu. Kalau tidak ada kasus Sampang, boleh jadi kewaspadaan Ummat Islam terhadap gerakan Syi’ah yang sudah sedemikian berani dan nekat, tidak bangkit ke permukaan.

Dari Radio Sampai UIN IAIN

 Gerakan Syi’ah tidak melulu berupa program terstruktur dari sebuah lembaga berbadan hukum yang jelas-jelas menyatakan dirinya Syi’ah, tetapi bisa disisipkan di lembaga-lembaga yang terlanjur diidentifikasi sebagai lembaga bukan Syi’ah oleh masyarakat. Misalnya, di Radio Silaturahim (Radio Rasil) yang memposisikan diri sebagai radio dakwah Islam, ternyata di sebagian acaranya, ada propaganda paham sesat Syi’ah. Terutama acara yang dibawakan oleh ustadz Husen Alatas dan ustadz Zen Al-Hady.

 Di sejumlah masjid yang secara kultural lebih dekat ke NU (Nahdlatul Ulama), ada kalanya bisa ditemukan materi khotbah Jum’at yang mengandung propaganda paham sesat Syi’ah, dan hal tersebut tidak disadari oleh jama’ah maupun pengurusnya. Begitu juga dengan televisi RI maupun swasta, karena pemilik dan pengelola program keagamannya awam, maka mereka seringkali tidak menyadari sedang ditunggangi oleh para misionaris Syi’ah untuk mengkampayekan paham sesat Syi’ah. Bahkan TVRI beberapa tahun yang lalu pernah kecolongan selama Ramadhan menyiarkan materi Syi’ah, sehingga pihak MUI (Majelis Ulama Indonesia) menurut salah seorang ketua MUI, menyatakan keberatannya.

 UIN alias IAIN yang selama ini suka disebut sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang juga melahirkan paham liberal bahkan neo-komunisme, juga bisa dirasakan adanya gerakan Syi’ah di dalamnya. Misalnya, melaui sejumlah disertasi maupun tesis yang berbau Syiah. Bahkan, ada disertasi dan tesis yang justru mempromosikan konsep Nikah Mut’ah ynag sudah diharamkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

 Misalnya, salah satu tesis karya Munawar, SHI dari IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 13 Desember 2006, berjudul Nikah Mut’ah Sebuah Alternatif Solusi Perzinaan. Dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, setidaknya bisa ditemui belasan karya tulis (tesis dan disertasi) yang berbau Syi’ah. Di UIN Alaudin Makassar, bisa ditemui sekitar lima karya tulis yang berbau Syi’ah. (lihat,  Astaghfirullah… Sejumlah disertasi dan tesis di UIN IAIN Indonesia berbau Syiah, bahkan ada yang promosi Nikah Mut’ah)

 Menurut informasi Nugon di suatu milis yang anggotanya para intelektual Muslim di dalam negeri maupun luar negeri, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada masa tertentu yang namanya tesis atau skripsi harus cenderung kepada paham Mu’tazilah, Syi’ah atau Sepilis. “Kalau lurus, lempeng, ndak laku, sulit di-approved untuk diuji, dan sulit lulus. Koko ane dulu mengajukan skripsi yang cukup brilian menurut ane, yaitu perbandingan Shakespeares vs Dongeng 1001 Malam. Mau dibedah dari segi sastra. Tapi lama sekali tidak ditanggapi oleh dosen pembimbingnya. Walhasil terpaksa ganti haluan, cari topik skripsi yang ringan-ringan, baru di-approved.”

Di UIN Alaudin Makassar, konon tokoh Syi’ah Jalaluddin Rakhmat menempuh program untuk gelar doctor di sana, namun diprotes oleh para tokoh Islam. Maka dalam wisuda ke-61 periode Desember 2011, yang berlangsung pada hari Kamis tanggal 29 Desember 2011, di Auditorium UIN Alauddin  Rektor UIN Alauddin, Prof Dr H A Qadir Gassing HT MS, menjelaskan, UIN Alaudin Makassar tidak memberi gelar doktor kepada Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal), namun Kang Jalal sendiri yang mendaftar secara resmi melalui program doktor by research.

Sikap petinggi UIN Alaudin Makassar yang toleran dan akomodatif terhadap Jalaluddin Rakhmat yang selama ini jelas-jelas berpaham Syi’ah menunjukkan bahwa gerakan Syi’ah memang berani dan terang-terangan. Selama ini Jalaluddin Rakhmat melalui sejumlah tulisannya mengkafirkan sahabat Nabi.

Misalnya, dalam Buletin al Tanwir Yayasan Muthahhari, IJABI Jabar bekerjasama dengan IJABI Sulsel, Edisi Khusus No. 298. 10 Muharram 1431 H.  hal. 3, Kang Jalal mengatakan bahwa para sahabat merobah-robah agama. Di halaman berikutnya, Kang Jalal mengatakan bahwa para sahabat murtad.

 Sedangkan melalui tulisannya berjudul Al Mushthafa (Manusia Pilihan yang Disucikan), Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008. hal. 24, Kang Jalal mengatakan bahwa Muawiyah tidak hanya fasik bahkan kafir, tidak meyakini kenabian. Kemudian di halaman 73, Kang Jalal mengatakan bahwa ia (Muawiyah) bersama dengan Abu Sufyan dan Amr bin ash telah dilaknat oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

 ***

Begitulah faktanya, ketika Ummat Islam di Suriah dibantai rezim Syi’ah, ketika Ummat Islam di Iran dibantai dan mengalami perlakuan diskriminatif oleh para penguasa Syi’ah, sementara itu di Indonesia misionaris Syi’ah leluasa menjajakan paham sesatnya di radio, suratkabar, televisi, hingga ke perguruan tinggi. Ketika tokoh-tokoh penyesat bepaham sesat Syi’ah kian berani, pantaskah tokoh Islam ahlussunnah wal jama’ah justru cari aman, pura-pura tidak tahu, atau justru berbalik arah mendukung Syi’ah? (Oleh: Hamzah Tede dan Hartono Ahmad Jaiz-Sumber)

kilowyk

Syi'ah Bukan Islam, tapi Ordo Sesat! Kesesatannya Diakui Ulama Dunia, MUI, NU & Depag

bahaya-syiahYOGYAKARTA (voa-islam.com) - Majelis Mujahidin (MM) menyesalkan pernyataan oknum pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Umar Syihab yang menuntut diakui eksistensinya sebagai penganut agama Islam. Pernyataan ini memperkeruh suasana dengan mendompleng insiden Sampang (29/12/2011) sebagai momentum untuk merehabilitasi kesesatan ordo Syi’ah. Demikian rilis MM yang diterima voa-islam.com, Kamis (5/1/2012).

“Kasus pembakaran padepokan ordo Syi’ah oleh warga masyarakat Nangkerang, Sampang, Madura, digunakan sebagai momentum rehabilitasi kesesatan Syi’ah oleh tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia. Dalam kasus ini, Syi’ah memposisikan diri sebagai pihak yang teraniaya dan dizalimi, bukan saja oleh umat Islam tapi juga Negara,” ujar Majelis Mujahidin dalam rilis yang ditandatangani oleh Al-Ustadz Muhammad Thalib (Amir), Irfan S. Awwas (Ketua), dan M. Shabbarin Syakur (Sekretaris).

Sebagai sebuah ordo agama, jelas Thalib, Syi’ah dinyatakan sesat dan bukan bagian dari Islam, karena keyakinan serta doktrinnya yang menghina Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para shahabat. Indoktrinasi Syi’ah menyatakan bahwa: Imam Syi’ah maksum dan derajatnya lebih tinggi dari Rasulullah, Al-Qur’an yang ada sekarang palsu, para shahabat Nabi semuanya pendusta karena itu semua hadits shahih dalam kitab hadits kaum Muslimin dianggap palsu. Dan mereka menganggap para khalifah selain Ali karramallahu wajhah adalah para perampas kekuasaan kekhalifahan. Dan yang paling menjijikkan, mereka melakukan  mut’ah alias kawin kontrak.

Oleh karena itu, lanjut Thalib, para ulama Islam sepakat memvonis Syi’ah bukan Islam. Di antara ulama besar yang menyatakan demikian adalah: Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik, Imam Syafi’i, Al-Bukhari, Abu Hamid Muhammad Al-Muqaddasi, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah dll. Abu Zur’ah Ar-Razi mengatakan: “Bila Anda melihat seseorang mencela salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah orang tersebut adalah zindiq. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Selain itu, Majelis Mujahidin juga mengungkap konsensus lembaga dan ormas Islam Indonesia yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah sesat dan menyesatkan.   Rakernas MUI 4 Jumadil Akhir 1404 H/7 Maret 1984 M di Jakarta, MUI telah merekomendasikan perlunya umat Islam bangsa Indonesia waspada terhadap menyusupnya paham Syi’ah yang memiliki perbedaan-perbedaan pokok dengan ajaran Islam Ahlu Sunnah (pengikut Qur’an dan Sunnah).

PBNU pernah mengeluarkan surat resmi Nomor: 724/A. II. 03/10/1997, 12 Rabiul Akhir 1418 H/14 Oktober 1997 M yang ditandatangani Rais Aam KH. M. Ilyas Ruhiat dan Katib Aam KH. M. Drs. Dawam Anwar. Mengingatkan kepada bangsa Indonesia agar tidak terkecoh oleh propagandis-propagandis Syi’ah, dan perlunya umat Islam bangsa Indonesia mengetahui perbedaan prinsipil ajaran Syi’ah dengan Islam.

Departemen Agama RI (sekarang Kemenag RI) telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: D/BA. 01/4865/1983, 5 Desember 1983 tentang, “Hal ihwal Mengenai Golongan Syi’ah” menyatakan bahwa ajaran Syi’ah tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Islam.

Karenanya, Majelis Mujahidin menegaskan bahwa Syi’ah adalah bukan Islam tapi ordo sesat, dan orang yang menyatakan Syi’ah tidak sesat, berarti dia adalah orang sesat. “Bahwa Syi’ah bukan dari golongan Islam. Siapa saja yang tidak menganggap Syi’ah sesat berarti dia sesat,” ujar Thalib. [Desastian - Sumber]

kilowyk

Fatwa MUI Tentang Syi’ah

fatwa-mui

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang  faham Syi’ ah sebagai berikut :

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

 Perbedaan itu di antaranya :

  1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
  2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus  Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari
    segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

 Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah”(pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah

 Ditetapkan : Jakarta, 7 Maret 1984 M

4 Jumadil Akhir 1404 H

 

 KOMISI  FATWA MAJELIS  ULAMA  INDONESIA

 Ketua                                                              Sekretaris

 Ttd                                                                       Ttd

 

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML                                H. Musytari Yusuf, LA

 

(Untuk mendownload, silahkan klik disini )

kilowyk

Pernyataan Pers Majelis Mujahidin: Syi’ah Bukan Islam

MMI

KASUS pembakaran padepokan ordo Syi’ah oleh warga masyarakat Nangkerang, Sampang, Madura, 29 Desember 2011 lalu, digunakan sebagai momentum rehabilitasi kesesatan Syi’ah oleh tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia.

Dalam kasus ini, Syi’ah memosisikan diri sebagai pihak yang teraniaya dan dizalimi, bukan saja oleh umat Islam tapi juga Negara. Bahkan melalui berbagai pernyataan simpatisan Syi’ah, mereka menuntut diakui eksistensinya sebagai penganut agama Islam, seperti dinyatakan salah seorang pimpinan MUI Pusat, Umar Syihab:

“MUI tidak pernah menyatakan bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar sama halnya dengan ahli sunnah wal jama'ah, ialah mazhab yang benar, dan kedua mazhab tersebut sudah ada sejak awal Islam," katanya di sebuah acara TV.

Sebagai sebuah ordo agama, Syi’ah dinyatakan sesat dan bukan bagian dari Islam, karena keyakinan serta doktrinnya yang menghina Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  dan para shahabat. Indoktrinasi Syi’ah menyatakan bahwa: Imam Syi’ah maksum dan derajatnya lebih tinggi dari Rasulullah, Al-Qur’an yang ada sekarang palsu, para shahabat Nabi semuanya pendusta karena itu semua hadits shahih dalam kitab hadits kaum Muslimin dianggap palsu. Dan mereka menganggap para khalifah selain Ali karramallahu wajhah adalah para perampas kekuasaan kekhalifahan. Dan yang paling menjijikkan, mereka melakukan  mut’ah alias kawin kontrak.

Oleh karena itu, ulama Islam menyatakan bahwa Syi’ah bukan Islam. Di antara ulama besar yang menyatakan demikian adalah: 1) Imam Ahmad bin Hambal, 2) Imam Malik, 3) Imam Syafi’i, 4) Al-Bukhari, 5) Abu Hamid Muhammad Al-Muqaddasi, 6) Ibnu Katsir, 7) Ibnu Taimiyah dll. Abu Zur’ah Ar-Razi mengatakan: “Bila Anda melihat seseorang mencela salah seorang shahabat Rasulullah Saw, maka ketahuilah orang tersebut adalah zindiq. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Selain itu, ormas Islam Indonesia juga menyatakan ajaran Syi’ah sesat dan menyesatkan.   Rakernas MUI 4 Jumadil Akhir 1404 H/7 Maret 1984 M di Jakarta, MUI telah merekomendasikan perlunya umat Islam bangsa Indonesia waspada terhadap menyusupnya paham Syi’ah yang memiliki perbedaan-perbedaan pokok dengan ajaran Islam Ahlu Sunnah (pengikut Qur’an dan Sunnah).

PBNU pernah mengeluarkan surat resmi Nomor: 724/A. II. 03/10/1997, 12 Rabiul Akhir 1418 H/14 Oktober 1997 M yang ditandatangani Rais Aam KH. M. Ilyas Ruhiat dan Katib Aam KH. M. Drs. Dawam Anwar. Mengingatkan kepada bangsa Indonesia agar tidak terkecoh oleh propagandis-propagandis Syi’ah, dan perlunya umat Islam bangsa Indonesia mengetahui perbedaan prinsipil ajaran Syi’ah dengan Islam.

Departemen Agama RI (sekarang Kemenag RI) telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: D/BA. 01/4865/1983, 5 Desember 1983 tentang, “Hal ihwal Mengenai Golongan Syi’ah” menyatakan bahwa ajaran Syi’ah tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Islam.

Berdasarkan alasan dan fakta di atas, maka sebagai institusi penegak Syari’ah Islam, Majelis Mujahidin menyampaikan pernyataan syar’iyah sebagai berikut:

  1. Bahwa Syi’ah bukan dari golongan Islam. Siapa saja yang tidak menganggap Syi’ah sesat berarti dia sesat.
  2. Pemerintah, MUI dan ormas Islam supaya melakukan penelitian tuntas terhadap ajaran-ajaran Syi’ah berdasarkan kitab-kitab induk mereka, tanpa terkecoh dengan perbuatan, aktifitas, maupun taqiyah pengikut Syi’ah. Sehingga perbedaan paham ataupun penyimpangan ajarannya dapat diketahui secara publik.
  3. Supaya pemerintah segera menyelesaikan kasus pembakaran padepokan ordo Syi’ah di Madura secara menyeluruh dan adil dengan melakukan investigasi secara cermat sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut.
  4. Majelis Mujahidin mengusulkan diadakan perdebatan ilmiah dengan para pentolan Syi’ah, guna menguji pengakuan kebenaran maupun kebatilan ajaran Syi’ah. Jika mereka tidak mau merespon usulan ini, hal itu mengindikasikan adanya iktikad yang tidak baik, menyembunyikan penyimpangan dan permusuhannya terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Jogjakarta, 4 Januari 2012

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)

 

Irfan S  Awwas (Ketua)             M. Shabbarin Syakur (Sekretaris)

Terkait:

  1. Dibalik Pembuatan Tiga Kategori Syi'ah
  2. Habib RS Cenderung Syi'ah?
  3. Syi'ah lebih bahaya dari Ahmadiyah
  4. Inikah trik-trik Habib RS dalam membela aliran sesat Syi'ah?
  5. Persekongkolan Syiah Iran dan Syiah Lebanon: Para perwira militer Iran dan komandan Hizbul Lata Lebanon mendalangi konflik di Tripoli
  6. Nah, Said Aqil Siradj tertangkap basah kerjasama dengan Syiah

Sumber: hidayatullah.com

Share/Save/Bookmark
Dibaca :191915 kali  

Komentar-Komentar  

Quote
 
0
Perbaiki logika antum akhi a
Yang dimaksud dengan perawi syi’ah di sini adalah perawi yang mencela, membenci dan mengkafirkan ×Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang ada dalam statemen-statem en mereka dalam buku-bukunya. Maka perawi tersebut harus ditolak dan perawi tersebut tidak akan didapatkan baik dalam ×Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.

JAWAB
LAH INI APA YG ANTUM CANTUMKAN TENTANH SYIAH TAFIDHAH
Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah

Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179
H)
Beliau bertutur,
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ،
ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Orang yang MENCELA SHAHABAT Nabi shallallâhu
‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau
bagian apapun dalam keislaman.”
–. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162
dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]

…Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa
yang ada pada hatinya kedengkian (BENCI
ATAUPUN MARAH-PEN) TERHADAP PARA SAHABAT
Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al-
fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as-
Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-
Maktabah asy-Syamilah)

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al
Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu
Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ :
ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
“Orang yang mencela shahabat-shahab at Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak
termasuk dalam golongan Islam.”
(As Sunnah, milik al-Khalal: 2/557)
DST,,,,
DAN MASIH BANYAK LAGI PERNYATAAN ANTUM SEPERTI INI DIMANA REFERENSI YG ANTUM CANTUMKAN TAK SEPERTI KARANGAN ANTUM BAHWA SYIAH RAFIDHAH ADALAH “Yang dimaksud dengan perawi syi’ah di sini adalah perawi yang mencela, membenci dan mengkafirkan ×Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang ada dalam statemen-statem en mereka

coba perhatikan tulisan antum satu persatu apakah semuanya mencantumkan makna SYIAH RAFIDHAH MENCELA, MEMBENCI DAN MENGKAFIRKAN ×ABU BAKAR DAN UMAR
ANTUM YG PERTAMA BUAT TULISAN ANTUM PULA ORH PERTAMA YG MENGINGKARINYA… .. YG CERDAS BRO KALO MAU MENGELAK …. MAKANYA KALO BELAJAR JANGAN DIKALI CILIUNG ..BEGINI HASILNYA KALO SUDAH TAMAT HEHEHEHEHE
Quote
 
0
Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Salah satu isu yang sering dilontarkan penganut Syi’ah terhadap ×Ahlus Sunnah adalah ulama ×Ahlus Sunnah diantaranya Imam Bukhariy juga meriwayatkan dari perawi Syi’ah.

Dan jawaban dari sebagian Ahlus Sunnah biasanya berupa bantahan yaitu Imam Bukhariy memang meriwayatkan dari Syi’ah tetapi Syi’ah yang dimaksud bukan Syi’ah Rafidhah tetapi Syi’ah dalam arti lebih mengutamakan Aliy bin Abi Thalib dari Utsman atau sahabat lainnya, Syi’ah yang tetap memuliakan para sahabat bukan seperti Syi’ah Rafidhah yang mencela para sahabat. Salah satu bantahan yang dimaksud berikut ini.
Perlu diketahui bahwasanya syiah banyak tingkatannya. Ada diantara mereka yang hanya mendahulukan Ali bin ×Abi Thalib dari pada ×Utsman radhiyallahu anhuma tanpa mencela Abu Bakr dan Umar. Dan diantara
mereka ada yang mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhum. Bahkan diantara mereka ada yang mencela para sahabat radiyallahu anhum dan mengkafirkan mereka.

Maka perlu diketahui,Imam Bukhari mustahil untuk mengambil riwayat orang-orang syiah rafidhah yang mengkafirkan ×Abu Bakr dan Umar dan para sahabat lainnya. Karena Imam Bukharipun mengkafirkan mereka. Beliau berkata:

مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ والرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، وَلَا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُعَادُونَ، وَلَا يُنَاكَحُونَ، وَلَا يَشْهَدُونَ، وَلَا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ

“Aku tidak berpikir akan shalat dibelakang seorang jahmiyyah dan syiah rafidhah, atau aku shalat dibelakang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya mereka tidak ucapkan salam kepadanya, tidak dijenguk ketika sakit, dan mereka tidak dinikahi dengan kaum muslimin, dan mereka tidak boleh memberi kesaksian, dan sesembelihan mereka tidak dimakan”. (Kholqu Af’al Al Ibad hal.33)

Akan tetapi perlu diketahui juga, bahwasanya ×Imam Bukhari memang benar mengambil riwayat dari syiah. Namun syiah yang hanya mendahulukan ×Ali bin Abi Thalib dari pada Utsman bin Affan tanpa mencela atau mengkafirkan ×Abu Bakr dan Umar dan mereka tidak berlepas diri dari keduanya, mereka menghormati ×Abu Bakr dan Umar serta para sahabat lainnya.

Sehingga tasyayyu’ (syiah) yang dikenal pada zaman para ulama mutaqaddimin dan diambil riwayatnya adalah macam syiah yang seperti ini, tidak sampai mengkafirkan Abu Bakr dan ×Umar bahkan mereka menghormati keduanya dan para sahabat lainnya.

Imam Ibnu Hajr Al Asqalani rahimahullah berkata menjawab permasalahan ini:

فالتشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان, وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما, وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله -صلى الله عليهآله وسلم-, وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا, لا سيما إن كان غير داعية, وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة

“Maka tasyayyu’ (syiah) yang dikenal di kalangan para ulama mutaqaddimin adalah keyakinan untuk mendahulukan Ali dari pada Utsman. Dan bahwasanya ×Ali lah yang benar dalam peperangan dan orang yang menyelisihi ×Ali adalah orang yang salah akan tetapi mereka tetap mendahulukan ×Abu Bakr dan Umar dan tetap memuliakan keduanya. Dan bisa jadi sebagian mereka berkeyakinan bahwasanya ×Ali adalah makhluk yang paling mulia setelah ×Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan jika keyakinan ini ada pada dirinya dengan menjaga sikap wara’ dan agamanya dan dia melakukannya karena kejujuran dan berijtihad maka riwayatnya tidaklah tertolak karena hal tersebut, terlebih rawi tersebut bukanlah orang yang selalu menyeru kepada keyakinannya. Dan adapun syiah yang dikenal pada zaman ulama muta’akhhirin maka dia adalah rafidhah murni maka tidak diterima riwayat seorang syiah rafidhah yang over dan tidak ada kemuliaan untuk mereka” (Tahdziib At Tahdziib 1/94)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah juga berkata:

البدعة على ضربين: فبدعة صغرى كغلو التشيع، أو كالتشيع بلا غلو ولا تحرف، فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق فلو رد حديث هؤلاء لذهب جملة من الآثار النبوية، وهذه مفسدة بينة ثم بدعة كبرى، كالرفض الكامل والغلو فيه، والحط على أبي بكر وعمر رضي الله عنهما، والدعاء إلى ذلك، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة. وأيضاً فما أستحضر الآن في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مأمونا، بل الكذب شعارهم، والتقية والنفاق دثارهم، فكيف يقبل نقل من هذا حاله! حاشا وكلا. فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضي الله عنه، وتعرض لسبهم. والغالي في زماننا وعرفنا هو الذي يكفر هؤلاء السادة، ويتبرأ من الشيخين أيضاً، فهذا ضال معثر

“Bid’ah ada 2 macam: Ada bid’ah kecil seperti bid’ahnya sikap berlebihannya syiah atau seperti syiah yang tidak berlebihan dan tidak merubah-rubah syariat. Maka ini banyak terjadi dari kalangan tabiin maupun tabiut tabi’in akan tetapi mereka tetap menjaga agama mereka dan kewara’an dan keikhlasan (kejujuran) mereka, seandainya hadits mereka ditolak maka beberapa jumlah atsar (hadits) nabi akan hilang. Dan ini adalah mafsadah yang jelas. Kemudian ada bid’ah yang besar, seperti rafidhah yang sempurna dan over didalamnya. Dan merendahkan Abu Bakr dan Umar radiyallahu anhuma dan menyeru kepada hal tersebut. Maka macam bid’ah seperti ini tidak perlu dijadikan hujjah dan tidak ada kemuliaan untuknya. Dan aku juga tidak bisa menghadirkan contoh seseorang yang jujur dan amanah dalam permasalahan ini, karena dusta ada lah syi’ar mereka, dan taqiyyah dan kemunafikan adalah baju khas mereka, maka bagaimana akan diterima penukilah dari orang yang seperti ini keadaannya! Sekali-kali tidak. Maka syiah yang over di zaman orang-orang terdahulu adalah orang yang membicarakan Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah, dan sebuah kelompok yang memerangi Ali rahiyallahu anhu, dan bisa jadi mereka juga mencela. Adapun syiah yang over di zaman kita dan apa yang kita kenal dia adalah yang mencela mereka selaku para pemimpin (Abu Bakr dkk) dan berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar, maka ini adalah kesesatan yang sangat buruk”. (Mizan Al I’tidal hal. 5-6)


Sehingga perlu diketahui, kesyiahan orang yang membuat syubhat sangat berbeda dengan kesyiahan para perawi di zaman para salaf yang diterima riwayatnya. Sehingga batillah syubhat mereka dan sudah terbantahkan. Jadi, syiah bukanlah satu tingkatan dan syiah yang diterima riwayatnya adalah syiah yang hanya mendahulukan Ali dari pada Utsman namun mereka tetap menghormati Abu Bakr dan Umar dan para sahabat lainnya bahkan mereka tetap menghormati mereka.

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry


Benarkah demikian?. Tentu saja cara sederhana untuk membuktikan hal itu adalah tinggal menunjukkan adakah perawi ×Bukhariy yang dikatakan ×Rafidhah atau dituduh ×Syiah yang mencela sahabat Nabi. Akan diambil beberapa perawi ×Bukhariy sebagai contoh yaitu

‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy
‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawajiniy
Auf bin Abi Jamiilah Al Arabiy
Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

.

.

‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi dalam Taqrib At Tahdzib hal 621 no 4192 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Abdul Malik bin A'yan

[perawi kutubus sittah] ‘Abdul Maaalik bin A’yaan Al Kuufiy maula bani Syaibaan, seorang Syi’ah yang shaduq, memiliki riwayat dalam Shahihain satu hadis sebagai mutaba’ah, ia termasuk thabaqat keenam

Dari keterangan di atas maka ‘Abdul Maalik bin A’yaan termasuk perawi ×Bukhariy dalam Shahih-nya. Adapun soal hadisnya yang hanya satu sebagai mutaba’ah maka itu tidak menjadi soal disini. Lantas Syi’ah seperti apakah dia? Apakah dia seorang rafidhah?. Jawabannya ada pada apa yang disebutkan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabiir hal 792 no 990 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid]

Abdul Malik bin A'yan2

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin A’yan, seorang syi’ah ia di sisi kami rafidhah shaahib ra’yu

Atsar di atas sanadnya shahih sampai ×Sufyan dan ia adalah Ibnu Uyainah. Dalam atsar tersebut ia menyatakan bahwa ×Abdul Malik bin A’yan seorang rafidhah

Bisyr bin Muusa seorang imam hafizh tsiqat [Siyar A’lam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 13/352 no 170]
Al Humaidiy yaitu Abdullah bin Zubair bin Iisa seorang tsiqat hafizh faqih [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 506 no 3340]
Sufyan bin Uyainah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 395 no 2464]

.

.

.

‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy

Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 14/175 no 3104 [tahqiiq Basyaar Awwaad Ma’ruuf] menyebutkan salah satu biografi perawi yang termasuk perawi Bukhariy

Abbad bin Ya'qub4

[perawi Bukhariy, Tirmidzi dan Ibnu Majah] ‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid Al Kuufiy, seorang Syi’ah

Lantas Syiah yang bagaimanakah dia?. Jawabannya bisa dilihat dari pernyataan ×Shalih bin Muhammad yang dinukil oleh Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal

'Abbad bin Ya'qub2

Aliy bin Muhammad Al Marwaziy berkata Shalih bin Muhammad ditanya tentang ‘Abbaad bin Ya’quub Ar Rawaajiniy, Maka ia berkata “ia telah mencaci Utsman”

Ibnu Hibban dalam kitabnya Al Majruuhin 2/163 no 794 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid] menyatakan dengan jelas bahwa ia rafidhah

'Abbad bin Ya'qub

‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid termasuk penduduk Kuufah, meriwayatkan dari Syariik, telah meriwayatkan darinya guru-guru kami, wafat pada tahun 250 H di bulan syawal, ia seorang Rafidhah yang mengajak ke paham rafadh, dan bersamaan dengan itu ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi masyhur maka selayaknya ditinggalkan

Bukhariy meriwayatkan darinya dan memasukkannya dalam kitab Shahih-nya. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah salah satu dari guru Imam Bukhariy. Bukhariy hanya meriwayatkan satu hadis darinya dan itu pun sebagai mutaba’ah. Tidak jadi soal berapa jumlah hadis yang diriwayatkan Bukhariy darinya, yang penting telah dibuktikan bahwa ia termasuk perawi Bukhariy yang dikatakan rafidhah.

.

.

.

‘Auf bin Abi Jamiilah Al A’rabiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 757 no 5250 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Auf bin Abi Jamilah

[perawi kutubus sittah] Auf bin Abi Jamiilah [dengan fathah pada huruf jiim] Al A’rabiy, Al ‘Abdiy, Al Bashriy, seorang yang tsiqat dituduh dengan faham qadariy dan tasyayyu’ termasuk thabaqat keenam wafat pada tahun 146 atau 147 H pada umur 86 tahun

Bagaimanakah tuduhan tasyayyu’ yang dimaksud?. Adz Dzahabiy menukil dalam kitabnya Mizan Al I’tidal 5/368 no 6536 [tahqiq Syaikh 'Aliy Al Mu'awwadh, Syaikh 'Adil Ahmad dan Ustadz Dr 'Abdul Fattah]

Auf bin Abi Jamilah2

Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshaariy berkata aku melihat Dawud bin Abi Hind memukul Auf Al Arabiy dan mengatakan “celaka engkau wahai qadariy”. Dan Bundaar berkata dan ia membacakan kepada mereka hadis Auf “demi Allah sungguh Auf seorang qadariy rafidhah syaithan”

.

.

.

‘Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 691 no 4732 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Aliy bin Ja'd

[perawi Bukhariy dan Abu Dawud] Aliy bin Ja’d bin Ubaid Al Jauhariy, Al Baghdadiy seorang tsiqat tsabit dituduh dengan tasyyayyu’, termasuk thabaqat kesembilan dari kalangan sighar, wafat pada tahun 230 H

Aliy bin Ja’d termasuk salah satu guru Bukhariy, tidak ada yang menuduhnya rafidhah tetapi ia pernah menyatakan Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam. Dalam Masa’il Ahmad bin Hanbal riwayat Ishaaq bin Ibrahim bin Haani’ An Naisaburiy 2/154 no 1866 [tahqiiq Zuhair Asy Syaawiisy], ia [Ishaaq] berkata

Aliy bin Ja'd2

Dan aku mendengar Abu ‘Abdullah [Ahmad bin Hanbal], telah berkata kepadanya Dalluwaih “aku mendengar Aliy bin Ja’d mengatakan demi Allah, Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam”

Dalluwaih yang dimaksud adalah Ziyaad bin Ayuub Abu Haasyim juga termasuk perawi Bukhariy, seorang yang tsiqat hafizh [Taqrib At Tahdzib hal 343 no 2067]

.

.

.

Ulasan Singkat

Fakta-fakta di atas adalah bukti yang cukup untuk membatalkan pernyataan bahwa Bukhariy tidak mengambil hadis dari perawi Rafidhah atau perawi Syi’ah yang mencela sahabat.

Yang kami sajikan disini hanyalah apa yang tertera dan ternukil dalam kitab Rijal Ahlus Sunnah, kami sendiri pada akhirnya [setelah mempelajari lebih dalam] memutuskan untuk tidak mempermasalahka n hal ini. Pengalaman kami dalam menelaah kitab Rijal menunjukkan bahwa perawi dengan mazhab menyimpang [di sisi ahlus sunnah] seperti khawarij, syiah, qadariy, bahkan nashibiy tetap ada yang dikatakan tsiqat atau shaduq sehingga mazhab-mazhab menyimpang tersebut tidak otomatis menjadi hujjah yang membatalkan keadilan perawi.

Hal ini adalah fenomena yang sudah dikenal dalam mazhab Ahlus Sunnah dan tidak ada yang bisa diperbuat dengan itu, memang kalau dipikirkan secara kritis bisa saja dipermasalahkan [sebagaimana kami dulu pernah mempermasalahka nnya] tetapi sekeras apapun dipikirkan tidak akan ada solusinya, tidak ada gunanya berkutat pada masalah yang tidak ada solusinya. Lebih baik menerima kenyataan bahwa memang begitulah adanya.

Silakan dipikirkan berapa banyak hadis shahih Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mencela khawarij tetapi tetap saja dalam kitab Rijal ditemukan para perawi yang dikatakan khawarij tetapi tsiqat dan shaduq.
Atau jika ada orang yang mau mengatakan bahwa mencela sahabat dapat menjatuhkan keadilan perawi maka ia akan terbentur dengan para perawi tsiqat dari golongan rafidhah yang mencela sahabat tertentu seperti Utsman dan dari golongan nashibiy yang mencela Aliy bin Abi Thalib.
Bukankah ada hadis shahih bahwa tidak membenci Aliy kecuali munafik tetapi dalam kitab Rijal banyak perawi nashibiy yang tetap dinyatakan tsiqat.

Mungkin akan ada yang berpikir, bisa saja perawi yang dikatakan atau dituduh bermazhab menyimpang [rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij] tidak mesti memang benar seperti yang dituduhkan. Jawabannya ya memang mungkin, tetapi apa gunanya berandai-andai, kalau memang begitu maka silakan dipikirkan bagaimana memastikan tuduhan tersebut benar atau keliru. Dalam kitab Rijal secara umum hanya ternukil ucapan ulama yang menyatakan perawi tertentu sebagai rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij tanpa membawakan bukti atau hujjah. Perkara ini sama halnya dengan pernyataan tautsiq terhadap perawi. Kita tidak memiliki cara untuk membuktikan benarkah ucapan ulama bahwa perawi tertentu tsiqat atau shaduq atau dhaif. Yang bisa dilakukan hanyalah menerimanya atau merajihkan atau mengkompromikan perkataan berbagai ulama tentang perawi tersebut.

Lantas mengapa isu ini dibahas kembali disini?. Isu ini menjadi penting ketika ada sebagian pihak yang mengkafirkan orang-orang Syi’ah maka orang-orang Syi’ah melontarkan syubhat bahwa dalam kitab Ahlus Sunnah termasuk kitab Bukhariy banyak terdapat perawi Syi’ah. Kemudian pihak yang mengkafirkan itu membuat bantahan yang mengandung syubhat pula bahwa perawi Syi’ah dalam kitab Shahih bukanlah Rafidhah. Kami katakan bantahan ini mengandung syubhat karena faktanya terdapat sebagian perawi syiah dalam kitab Shahih yang ternyata dikatakan Rafidhah [contohnya sudah disebutkan di atas].


Yang dimaksud dengan perawi syi’ah di sini adalah perawi yang mencela, membenci dan mengkafirkan ×Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang ada dalam statemen-statem en mereka dalam buku-bukunya. Maka perawi tersebut harus ditolak dan perawi tersebut tidak akan didapatkan baik dalam ×Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.

Ibn Hajar berkata; “(perawi) yang kesyi’ah-syi’ah an menurut pemahaman ulama terdahulu adalah meyakini ×Ali bin Abi Thalib lebih utama dibandingkan dengan ×Utsman bin Affan, dalam peperangannya ×Ali adalah yang benar dan lawannya yang keliru dengan tetap meyakini kekhilafahan ×Abu bakar dan Umar. Atau dari mereka ada yang meyakini bahwa ×Ali adalah sosok yang terbaik sesudah ×Rasulullah saw. Jika keyakinan tersebut berangkat dari sikap seorang perawi yang wara’, agamis, jujur dan mujtahid maka riwayatnya tidak ditolak. Terlebih perawi tersebut tidak mengajak kepada bid’ahnya. Adapun definisi tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ah an) dalam versi ulama generasi akhir adalah murni penolakan terhadap para khalifah; Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka periwayatannya tidak bisa diterima’. (Tahdzib at Tahdzib 1/18).

Imam Dzahabi berkata; “Bid’ah itu ada dua jenis; bid’ah kecil seperti ekstrimnya tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ah an) atau bisa juga kesyi’ah-syi’ah an yang tidak ekstrim. Maka hal ini banyak terjadi pada kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in, akan tetapi mereka tetap merupakan sosok yang agamis, wara’ dan jujur. Jika hadits mereka ditolak maka akan banyak yang hilang dari hadits-hadits nabi saw dan tentunya ini merupakan kerusakan yang besar.

Kemudian yang kedua adalah bid’ah yang besar seperti menolak kekhilafahan ×Abu Bakar dan Umar secara total, bersikap ekstrim dan melaknat keduanya. Maka periwayatannya tidak bisa menjadi hujjah dan tidak ada kemuliaan bagi mereka. Kalangan ini menjadikan dusta sebagai syi’arnya dan taqiyah serta kemunafikan sebagai selimutnya. Bagaimana bisa keadaan mereka yang seperti ini bisa diterima. Jelas tidak bisa. Kalangan Syi’ah ekstrim pada masa dulu adalah kalangan yang memperbincangka n dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah serta kalangan yang berseteru dengan ×Ali radhiallahu ‘anhu.

Adapun Syi’ah ekstrim pada masa kini adalah kalangan yang mengkafirkan para sahabat tersebut dan menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Maka ini merupakan murni kesesetan”. (Mizan al I’tidal; 1/5-6). Selain menyebutkannya dalam Mizan al I’tidal, Imam Dzahabi menyebutkannya agak panjang lebar dalam bukunya yang lain yaitu Siyar A’lam an Nubala.

Jika yang dimaksud perawi syi’ah itu adalah kalangan yang mengutamakan Ali atas Utsman atau atas Abu Bakar dan Umar –radhiallahu ‘anhu- sekalipun tanpa mencela serta tetap menerima kekhilafan mereka dan tidak mengkafirkan mereka. Maka akan ditemukan hadits mereka dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Periwayatan mereka diterima selama mereka dikenal dengan sosok yang jujur, hafal dan amanah. Ibn Hajar sendiri sudah menyusun dan menyebutkan nama-nama perawi Bukhari yang tertuduh Syi’ah dalam kitabnya ‘al Hadyu as Sari Muqaddimah fath al Baari’. Sebuah buku sebagai pengantar dalam memahami Syarh Shahih Bukhari.

Begitu juga dengan para penulis kontemporer yang telah menulis buku tentang konsep Bukhari dan Muslim dalam berinteraksi dengan para perawi syi’ah. Di antara judul buku yang bisa dijadikan referensi adalah;

a. Konsep Imam Bukhari Dalam Periwayatannya Dari Ahli Bid’ah Dalam Bukunya Al Jami’ as Shahih; Syi’ah Sebagai Sampel. Karya Karimah Sudani. Diterbitkan oleh Maktabah ar Rusyd Riyad.

b. Konsep Bukhari-Muslim Dalam Periwayatannya Dari Kalangan Syi’ah, Uniiversitas Alu al Bait, 2000.

c. Konsep Mengkritik Menurut Ahli Hadits karya Muhammad al umari, Dar an Nafais, Amman, 2000. Judul buku yang sama bisa juga dilihat dalam buku karya Akram al Umari.

Dengan demikian para ulama terlebih khusus Imam Bukhari masih meriwayatkan dari ulama yang tasyayyu’ tentunya selama mereka jujur, hafal, wara’ dan amanah. Hal ini mencerminkan sikap para ulama kita yang mau mengambil kebenaran dari mana saja datangnya selama sesuai dengan kaidah-kaidah kebenaran.

Untuk memperkuat pernyataan ini bisa dilihat sosok yang bernama Ubaidullah bin Musa bin Badzam (w 219H). Dalam mengomentari kondisi beliau, Imam Dzahabi berkata; Beliau Tsiqah, salah seorang tokoh meskipun di atas tasyayyu’ dan kebid’ahanya”. Ibn Hajar berkata; Beliau tsiqah dan sosok yang tasyayyu’ (kesyi’ah-syi’ah an). Dalam pernyataan lainnya; Termasuk pembesar di antara guru-guru Bukhari. Beliau mendengar dari sebagian ulama yang belum dikeluarkan oleh Bukhari. Abu Hafs Umar bin Syahin dikenal dengan sosok yang sangat ketat dan teliti dalam memberikan penilaian, beliau menyatakan; “(Ubaidullah bin Musa) adalah sosok yang tsiqah”.

Ibn mandah sendiri memasukan Ubaidullah dalam jajaran perawi Bukhari dalam bukunya Tasmiyatul Masyayikh Rawa ‘Anhum al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhari Fi Kitabihi al Jami’ as Shahih. Hal ini bisa dilihat dalam manuskrip Idaarah al Makhthuthaat wal maktabaat di kementrian wakaf Kuwait dengan no 1530. Demikian juga al Kalabadzi menyebutkannya dalam bukunya Rijal Shahih al Bukhari dan Ibn Thahir dalam bukunya al Jam’u Baina Rijaal as Shahiihain. (ul)

Oleh: Anung Al Hamat
Quote
 
0
DIFINISI SHAHABAT
1. Menurut Lughah [Bahasa].
Shahabi diambil dari kata-kata Shahabat = Persahabatan, dan bukan diambil dari ukuran tertentu yakni harus lama bersahabat, hal ini tidak demikian, bahkan persahabatan ini berlaku untuk setiap orang yang menemani orang lain sebentar atau lama. Maka dapat dikatakan seseorang menemani si fulan dalam satu masa, setahun, sebulan, sehari atau sejam. Jadi persahabatan bisa saja sebentar atau lama. Abu Bakar Al-Baqilani (338-403H) berkata : "Berdasarkan defenisi bahasa ini, maka wajib berlaku difinisi ini terhadap orang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kendatipun hanya sejam di siang hari. Inilah asal kata dari kalimat Shahabat ini". (Lisanul "Arab II:7; Al-Kilayat fi 'Ilmir Riwayah hal.51 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi ; As-Sunnah Qablat-Tadwin hal. 387)

2. Menurut Istilah Ulama Ahli Hadits.
Kata Ibnu Katsir : "Shahabat adalah orang Islam yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun waktu bertemu dengan beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau".

Kata Ibnu Katsir :" Ini pendapat Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf (=Ulama terdahulu dan belakangan)". (Al-Baa'itsul Hatsits Syarah Ikhtisar 'Uluumil-Hadits Lil-Hafizh Ibnu Katsir oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir hal. 151 cet. Darut turats Th. 1399H/1979M)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani melengkapi definisi Ibnu Katsir, ia Berkata :"Definisi yang paling shahih tentang Shahabat yang telah aku teliti ialah : "Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam". Masuk dalam difinisi ini ialah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baik lama atau sebentar, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak, baik ikut berperang bersama beliau atau tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau sekalipun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta. Masuk dalam definisi ini orang yang beriman lalu murtad kemudian kembali lagi kedalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam seperti Asy'ats bin Qais.

Kemudian yang tidak termasuk dari definisi shahabat ialah :

[a]. Orang yang bertemu beliau dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam sesudah itu (yakni sesudah wafat beliau).
. Orang yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab sebelum diutus Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan setelah diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dia tidak beriman kepada beliau.
[c]. Orang yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad. Wal'iyaadzu billah. (Al-Ishabah fil Tanyizis-Shahab ah I hal. 7-8 cet. Daarul-fikr 1398H)

Keluar pula dari definisi shahabat ialah orang-orang munafik meskipun mereka bergaul dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya mencela orang-orang munafik, dan nifaq lawan dari iman, dan Allah memasukkan orang munafik tergolong orang-orang yang sesat kafir dan ahli neraka [Lihat : Al-Qur'an surat An-Nisaa : 137,138,141,142 ,143,145. Juga surat Ali Imran : 8 - 20].

Sistim mu'amalah yang diterapkan oleh Rasulullah dan para shahabat dalam bergaul dengan orang-orang munafiqin jelas menunjukan bahwa shahabat bukanlah munafiqin dan munafiqin bukanlah shahabat. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa diantara shahabat ada yang munafik !!! Ayat-ayat Al-Qur'an dengan jelas membedakan mereka :

Allah menyuruh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi orang-orang kafir dan munafiq [At-Taubah:73, At-Tahriim:9], sedangkan kepada orang-orang yang beriman , Allah menyuruh beliau menyayangi mereka [Asy-Syu'araa' :215, Al-Fath:29].

Orang-orang munafiq tidak mendapat ampunan dari Allah [At-Taubah:80, Al-Munafiquun:6 ], sedangkan orang-orang beriman mendapatkan ampunan dari Allah [Muhammad:19].

Nabi, para shahabat dan orang-orang yang beriman dilarang menyalatkan mayat munafiqin [At-Taubah:84] sedangkan mayat orang yang beriman wajib di shalatkan sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Dan ayat-ayat lain serta hadits yang membedakan mereka.

3. Pendapat Ulama Tentang Definisi Shahabat.
Definisi yang diberikan oleh Ibnu Hajar merupakan definisi Jumhur Ulama di antara mereka ialah Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Madini, Al'iraqi, Al-Khatib, Al-Baghdadi, Suyuti dll. Ibnu Hajar berkata : Inilah pendapat yang paling kuat. Di antara ahli Ushul Fiqih yang berpendapat demikian Ibnul Hajib, Al-Amidi dan lain-lain. (Lihat Fathul Mughits 3/93-95, 'Ulumul-Hadits oleh Ibnu Shaleh hal. 146 ; At-Taqyid wal-idah Al-'Iraqi hal. 292 Alfiyah Suyuti hal. 57; Fathul Bari 7/3;Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam Lil-Amidi:83; Tanbih Dzawi Najabah ila 'Adalatis Shahabah hal. 11)

D. BAGAIMANA BISA DIKETAHUI SESEORANG ITU DIKATAKAN SHAHABAT ?
Kita dapat mengetahui seseorang itu dikatakan shahabat dengan :
[a]. Kabar Mutawatir seperti Khulafaur Rasyidin dan 10 orang ahli surga.
. Kabar yang masyhur yang hampir mencapai derajat mutawatir seperti Dhamam bin Tsa'labah dan 'Ukkaasyah bin Mihsan.
[c]. Dikabarkan oleh seorang shahabat lain atau oleh Tabi'i Tsiqat (terpercaya) bahwa si fulan itu seorang shahabat, seperti Hamamah bin Abi Hamamah Ad-Dausiy wafat di Ashfahan. Abu Musa Al-Asy'ari menyaksikan bahwa ia (Hamamah) mendengar hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
[d].Seseorang memberitakan tentang dirinya bahwa ia adalah seorang shahabat Rasulullah dan dimungkinkan bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menurut pemeriksaan ahli hadits bahwa ia memang seorang yang adil dan wafatnya tidak melebihi tahun 110H. (Tadribur-Rawi 2:213 oleh Imam Suyuthi cet. Daarul Maktabah ilmiyah 1399H/1979M ; Fathul-Mughits 3:140 Ushulul-Hadits 405-406)

D. MAKNA 'ADALATUS SHAHABAH
[1]. Menurut Bahasa.
Adalah atau 'Adl lawan dari Jaur artinya kejahatan. Rojulun 'Adl maksudnya : seseorang dikatakan adil yakni seseorang itu diridhai dan diberi kesaksiannya. [Lihat Kamus Muktarus-Shihah hal. 417 cet. Darul Fikr].

[2]. Menurut Istilah Ahli Hadits.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan dan muru'ah". [Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar hal. 29 cet. Maktabat Thayibah tahun 1404H].

[3]. Penjelasan Istilah Ahli Hadits.
Maksud 'Adalatus Shahabah ialah :"Bahwa semua shahabat ialah orang-orang yang taqwa dan wara, yakni mereka adalah orang-orang yang selalu menjauhkan maksiat dan perkara-perkara yang syubhat. Para shahabat tidak mungkin berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau menyandarkan sesuatu yang tidak sah dari beliau". Syaikh Waliyullah Ad-Dahlawi berkata :"Dengan menyelidiki (semua keterangan) maka dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa semua shahabat berkeyakinan bahwasanya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebesar-besar dosa, maka mereka menjaga sungguh-sungguh agar tidak terjatuh dalam berdusta atas nama beliau". (Tadribur-Rawi 2 hal. 215)

Al-Khatib Al-Baghdadi berkata :"Semua hadits yang bersambung sanadnya dari orang-orang yang meriwayatkan sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak boleh diamalkan kecuali kalau sudah diperiksa keadilan rawi-rawinya serta wajib memeriksa biografi mereka dan dikecualikan dari mereka adalah shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena 'Adalah (keadilan) mereka sudah pasti dan sudah diketahui dengan pujian Allah atas mereka. Allah memberitakan tentang bersihnya mereka dan Allah memilih mereka (sebagai penolong Rasul-Nya) berdasarkan nash Al-Qur'an". (Al-Kifayah fi 'Ilmir-Riwayah hal.93)

Imam Syairaji berkata dalam Tabshirah fi Ushulil-Fiqh hal. 329 :"Semua shahabat sudah tetap keadilannya, maka tidak perlu lagi diperiksa tentang keadaan mereka". ('Umul Hadits hal. 329, Libni Shalah ; Mudzakirah Ushulil-Fiqhlis -Syahqithi hal. 126)

E. DALIL-DALIL TENTANG KEADILAN SHAHABAT DARI AL-QUR'AN DAN SUNNAH.
[1]. Allah Berfirman.

"Artinya : Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar dan kalian beriman kepada Allah". [Ali-Imran : 110].

"Artinya : Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan". [Al-Baqarah : 143]

[2]. Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Menjelaskan Bahwa Para Shahabat Dan Umat Islam Yang Mengikuti Jejak Mereka Adalah orang-orang yang adil.

Sebagaimana sabda beliau.

"Artinya : Dari Abu Sa'id Al-Khudri adalah ia berkata :"Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Nuh akan dipanggil pada hari kiamat. Lalu ia jawab :"Aku penuhi panggilan-Mu dan Maha Bahagia nama-Mu wahai Rabb-ku". Allah bertanya :"Apakah sudah engkau sampaikan (dakwah/risalah ) ?". Ia berkata :"Ya sudah". Lalu umatnya di tanya ;"Apakah ia sudah menyampaikan (risalah) kepada kalian ?." Mereka berkata :"Tidak pernah ada pengancam (Da'i) yang datang kepada kami ?! Allah bertanya lagi pada Nuh 'Alaihi sallam :"Siapakah yang akan menjadi saksi bagimu (bahwa kamu sudah menyampaikan risalah)?" Ia (Nuh) jawab :"Muhammad dan umatnya". Kemudian ia menjadi saksi bahwa ia telah menyampaikan risalah, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi saksi atas kalian. Demikianlah Allah berfirman :"Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi saksi atas (perbuatan) kalian". Wasath dalam ayat ini bermakna adil.[Hadits Shahih Riwayat Bukhari/Fathul Bari 8 : 171-172 No. 4487].

[3].Allah Meridhai Mereka (Para Shahabat Dari Muhajirin Dan Anshar) Dan Orang-Orang Yang Mengikuti Jejak Mereka Dengan Baik.

"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalirkan sungai-sungai didalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". [At-Taubah : 100].

"Artinya : Sesungghnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepada mu (Muhammad) di bawah pohon". [Al-Fath : 18].

"Artinya : Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka ; kalian lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya ...". [Al-Fath : 29]

[4]. Sifat-Sifat Para Shahabat Yang Disebutkan Dalam Al-Qur'an Adalah :

[a]. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman [Al-Anfaal : 74].
. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus [Al-Hujuraat : 7]
[c]. Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan [At-Taubah : 20]
[d]. Mereka adalah orang-orang yang benar [At-Taubah : 119]
[e]. Mereka adalah orang-orang yang bertaqwa [Al-Fath : 26]
[f]. Mereka adalah orang-orang yang menjengkelkan orang-orang kafir dan mereka benci kepada kekafiran [Al-Fath : 29]
[g]. Dan sifat-sifat lainnya yang termasuk dalam Al-Qur'an.

[5]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda.

"Artinya : Sebaik-baik manusia adalah zamanku ini, kemudian yang sesudah itu, kemudian yang sesudah itu, kemudian nanti akan ada satu kaum dimana persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya itu mendahului persaksiannya". [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4:189, Muslim 7:184-185, Ahmad 1:378,417,434,4 42 dan lain-lain].

[6]. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda.

"Artinya :Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir".
Kata Ibnu Hibban :"Hadits ini sebesar-besar dalil yang menunjukkan bahwa semua shahabat adil dan tidak satupun diantara mereka yang tercela dan lemah. [Al-Jarh wat Ta'dil oleh Abi Lubabah ; Ibnu Hibban 1:123].

"Artinya : Ibnu Abbas berkata : 'Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat (sejam) itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh) tahun". [Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih] (Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469 hal, Takhrij Syaikh Al-Albani)

"Artinya : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak akan masuk neraka seorang-pun dari orang-orang yang berba'iat di bawah pohon (di Hudaibiyyah)". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Muslim].

"Artinya : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad III:396 dari Jabir].

Penjelasan :
Ayat-ayat dan hadits-hadits diatas menunjukan dengan jelas bahwa para shahabat Ridwanullahi 'alaihim ajmain adalah orang-orang yang telah mendapat pujian dan sanjungan dari Allah dan Rasul-Nya, mereka mempunyai jasa yang besar bagi Islam dan kum Muslimin.

Islam yang diterima oleh kaum Muslimin sampai hari Kiamat adalah berkaitan dengan pengorbanan para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan perang-perang lainnya demi tegaknya agama Islam. Karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan umat Islam bahwa apa yang mereka infaq-kan dan belanjakan fii-sabilillah belumlah dapat menyamai derajat para Shahabat, meskipun umat Islam ini berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas atau barang-barang berharga lainnya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata tentang Shahabat-shahab at Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :"Tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (di medan perang), sedang di malam hari mereka banyak berdiri, ruku' dan sujud (beribadah kepada Allah) silih berganti, tampak kegesitan dari wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di bara api bila mereka ingat akan hari pembalasan (Akhirat), tampak bekas sujud di dahi mereka, bila mereka Dzikrullah berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong laksana condongnya pohon dihembus angin yang lembut karena takut akan siksa Allah, serta mereka mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah". (Najhul Balaghah yang di tahqiq oleh Dr. Shubhi Shaleh cet. Daarul Kutub Al-Lubnani (Beirut) hal. 143,177,178 di